Jumat, 18 Januari 2013

Pola Bagi Hasil Nelayan Juragan Dan Sawi


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Profil Desa
            Pulau pa’je’nekang termasuk dalam wilayah administratif kab. Pangkajene kepulauan (pangkep). Terletak di desa mattiro deceng, kec. Liukang tuppabiring, dimana pada desa ini terdiri dari dua buah pulau yaitu pulau badi’ dan pulau pajenekang. Luas daerah mattiro deceng adalah 90 ha dengan perincian pulau badi 60,50 ha dan pulau pajenekang 29.50 ha. Pulau pajenekang secara geografis terletak pada titik 119o19’30”-119o20’00” BT 04o58’30”-4o58’00” LS
Perbatasan pulau pajenekang adalah :
·         Sebelah selatan perbatasan dengan keelurahan barrang lompo
·         Sebelah utara dengan desa mattiro bone
·         Sebelah barat dengan desa mattiro langi
·         Sebelah timur berbatasan dengan makassar
Jumlah penduduk pulau pajenekang 1530 terdiri atas perempuan 816 laki-laki 714, terdapat 235 rumah dengan jumlah kepala keluarga 302 KK sumber data dari  posyandu 2009/2010.
Batas-batas pulau pajenekang :
·         Sebelah utara berbatasan dengan pulau bonto sua dan pulau sanane
·         Sebelah selatan berbatasan dengan pulau balang lompo
·         Sebelah timur berbatasan dengan pulau barrang lompo dan
·         Sebelah barat berbatasan dengan pulau badi
Untuk mencapai pulau dapat melalui kanal paotere kota makassar dermaga kali bone kota pangkep. Waktu tempuhdari kota provinsi (makassar) 1 jam; waktu tempuh dari ibu kota kabupaten (pangkep) 2,5 jam; waktu tempuh dari ibu kota kecamatan (balang lompo) 25 menit; waktu tempuh dari ibu kota desa (pulau badi) 10 menit dengan menggunakan perahu jolloro’ mesin 35 PK. Penghidupan yang di geluti oleh masyarakat di pulau ini adalah aktifitas pemanfaatan sumberdaya laut yaitu sektor perdagangan hasil laut dan kenelayanan.
            Sarana dan prasarana yang terdapat di pulau pajenekang antara lain :
1. Sarana kesehatan berupa poyandu dan polindes
2. Sarana pendidikan berupa sd, smp
3. Sarana olahraga
4. Sarana penerangan (plts) dengan kapasitas 44 kilowatt peak yang mampu
    menyuplai listrik ke 250 rumah warga di pulau pajenekang
5. Dermaga
6. Pemakaman umum
7. Baruga pertemuan
            Ketersediaan air tawar terbatas dan hanya dapat di peroleh dengan cara membeli air dari kota makassar atau kota pangkep dengan harga Rp. 3000/20 liter. Ketersediaan air taawar di pulau ini terbatas karena kondisi air sumur payaumeskipun terdapat beberapa sumur yang memiliki air yang mendekati kondisi tawar.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Problem Kemiskinan Nelayan
Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang mata pencahariannya sebagian besar bersumber dari aktivitas menangkap ikan dan mengumpulkan hasil laut lainnya. Mereka umumnya hidup di kawasan pesisir pantai dan sangat dipengauhi kondisi alam terutama angin, gelombang, dan arus laut, sehingga aktivitas penangkapan ikan tidak berlangsung sepanjang tahun. Pada periode waktu tertentu nelayan melaut karena angin kencang, gelombang besar dan arus laut yang kuat. Kondisi alam ini kerapkali disebut musim paceklik yaitu suatu musim dimana nelayan tidak beraktivitas sama sekali. Guna mencukupi kebutuhan hidupnya, mereka umumnya mengutang pada juragan yakni pemilik kapal dan alat tangkap.
Utang akan dibayar saat kondisi alam membaik dan hasil tangkapan ikan melimpah. Prasyaratnya adalah nelayan harus menjaul hasil tangkapannya pada juragan dengan harga ditentukan juragan. Dampaknya buruk dari hubungan nelayan dan juragan ini adalah pada saat musim ikan ternyata nelayan tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Akibatnya, utang tidak mampu dilunasi dan menumpuk karena musim paceklik berikutnya nelayan kembali mengutang pada juragan. (Karim.2005)
Dalam struktur ekonomi masyarakat nelayan dikenal adanya Punggawa dan Sawi. Punggawa merupakan pemilik modal dan Sawi adalah peminjam atau pekerja atau juga dapat disebut buruh atau bahasa undang-undangnya nelayan kecil. Pemilik modal berhak membeli hasil tangkapan Sawi yang diberi modal. Dan Sawi berkewajiban menjual hasil tangkapannya kepada Punggawa yang memodalinya. Kewajiban ini merupakan ketentuan yang harus dilaksanakan. Modal yang diberikan oleh Punggawa tidak terbatas pada modal materi berupa uang, namun juga kepada peralatan seperti kapal, mesin kapal, jaring, pancing, pukat, dan sebagainya. (Idhan.2010)
2.2 Mekanisme Melaut
• Punggawa sawi memberikan modal kepada para anak buah kapal yang akan melaut. Ponggawa laut/juragan tidak ikut lagi mengikuti pelayaran melainkan tetap tingggal di darat/pulau mengusahakan perolehan pinjaman modal dari pihak lain, mengurus biaya-biaya anggotanya yang beroperasi di laut dan lain-lain
• Para nelayan yang telah menerima modal pergi melaut, paling lama setengah bulan tergantung ukuran kapal dan cuaca. Nelayan pemancing biasanya mulai beroperasi sekitar pukul 18.00 hingga dini hari. Dalam beroperasi nelayan pemancing menggunakan alat tangkap yaitu pancing rawe. Pancing rawe adalah pancing yang cara penggunaannya di bentangkan disekitar taka atau gusung, yang memiliki kurang lebih 100 mata kail. Mata kail yang digunakan adalah mata kail no 8. Selain pancing rawe, alat tangkap yang biasanya digunakan oleh nelayan pemancing adalah pancing kedo-kedo.
2.3 Peranan Punggawa Dan Sawi
Punggawa mempunyai peranan :
1.    memimpin dan mengorganisasikan kelompok untuk menangkap ikan
2.    menyediakan modal
3.    menyediakan alat tangkap (fishing gear), termasuk
4.    menyediakan kapal tangkap atau perahu.
 Sebagai bagian dari peranan pemimpin dan mengorganisasikan kelompok, punggawa juga melakukan: perekrutan anggota kelompok, pembagian hasil, pemberian pinjaman kepada para sawi dalam bentuk uang atau bahan sebagai biaya hidup (cost of living) bagi mereka, termasuk keluarganya yang mereka tinggalkan selama mereka berada di laut.
Peranan sawi :
sawi terdiri atas banyak orang (2 – 15), yang juga sudah terspesialisasi seperti sawi juragan, sawi pakkaca, sawi pa’bas serta sawi biasa tergantung dari jenis alat tangkap yang mereka ikuti.
Berdasarkan aturan pembagian hasil di dalam kelompok, dikenal adanya bagian-bagian hasil untuk :
1.    Kepemimpinan ataukepunggawaan, yaitu memimpin dan mengorganisasikan kelompok
2.    menyediakan perahu
3.    menyediakan alat tangkap
4.    menyediakan mesin atau motor pada perahu.

Keempat bagian hasil ini diperoleh atau diterima olehpunggawa yang menggambarkan adanya 4 (empat) peranan yang dimainkan olehpunggawa. Selanjutnya 1 (satu) peranan yang tersisa di dalam kelompok yaitu melaksanakan kegiatan penangkapan oleh parasawi yang jumlahnya dua sampai lima belas orang tergantung jenis alat tangkap yang digunakan. Selanjutnya, diantara parasawi biasanya satu atau dua orang diantara mereka mendapat tambahan peranan yaitu sawi yang memiliki keahlian tertentu misalnya sawi yang memimpin operasi, menangani bagian mesin, melakukan penyelaman pada waktu pengoperasian alat tangkap, dan jugasawi yang membersihkan mesin dan alat tangkap lainnya setibanya di darat. Tambahan pehasilan peranan diberikan kepadasawi diistilahkan sebagai bonus daripunggawa. (Safira. 2002)

2.4 Mekanisme Sistem Pembagian Hasil
Dalam perikanan laut pada umumnya, baik yang modern maUpun tradisional, diterapkan sistem aturan bagi hasil, sebaliknya hanya sebagian kecil di antara perikanan modern berskala besar yang kapitalistik menerapkan sistem pengupahan. Untuk perikanan tradisional berskala kecil, secara umum aturan bagi hasil menetapkan bahwa setiap anggotanya memperoleh satu bagian pendapatan dari jumlah keseluruhan pendapatan per aktifitas yang dilakukan. Pembagian hasil dilakukan setiap kali setelah pemasaran ikan dilakukan diluar biaya operasional, seperti bahan bakar. Namun, pembagian hasil bukan dilihat dari peran dan status, tetapi karena bantuan jasa transportasi dan tenaga saat memasarkan ikan ke Makassar.

Misalnya pendapatan kotor hasil penjulan ikan 10 juta:
1.    Sisa hasil penjualan ikan yang habis, dipotong persenan 5% - 10% oleh punggawa sawi (tergantung kesepakatan antara punggawa sawi dan sawinya). 10 juta x 5% = 500 ribu
2.    Pemilik kapal mendapatkan 3 - 5 juta (bila pemilik kapal juga merupakan punggawa sawi).
3.    Sisa hasil penjualan sejumlah 4,5 juta (10 juta – 5,5 juta) dibagi kepada ABK sejumlah 9 orang, atau dengan kata lain 500 ribu/ ABK.

2.5 Nelayan Pabalolang Di Pulau Pa’je’nekang
             Nelyan pabalolang adalah nelayan pengumpul ikan dari nelayan keramba atau nelayan penangkapan untuk di bawah ke palelangan atau bisa di katakan sebagai nelayan distributor. Nelayan pabalolang di pulau pa’je’nekang Kabupaten Pangkep biasanya melaut untuk mengumpulkan ikan dari nelayan penangkapan untuk di bawah ke pelelangan Rajawali ataupun pelelangan ikan di Paotere’, nelayan biasanya beranggotakan 3-4 orang dalam satu perahu dan perahu yang digunakan adalah perahu jenis jolloro’/perahu bermotor yang ukurannya lebih kecil dari perahu yang umum di gunakan. Lama waktu melaut biasanya sekitar 1-5 hari tergantung banyaknya ikan. Waktu yang di butuhkan dalam satu siklus yaitu ± 2 bulan dan nelayan istirahat selama satu minggu kemudian melaut kembali akan tetapi hal tersebut juga di pengaruhi oleh harga ikan, jika harga ikan murah maka satu siklus akan berakhir atau nelayan berhenti melaut.

jalur distribusi ikan
·         Nelayan pemancing, bertugas menangkap/memancing ikan hidup di taka-taka atau gusung kemudian menjualnya ke Ponggawa Pulau.
·         Pabalolang, bertugas mengantar/mendistribusikan ikan dari Ponggawa Karamba di pulau atau nelayan penangkap ikan kepada eksportir/Bos di Makassar.
·         Ponggawa pulau, bertugas membeli ikan dari nelayan pemancing dan biasanya juga bertugas sebagai nelayan pabalolang.
·         Eksportir/Bos di Makassar, bertugas membeli hasil tangkapan dari Poggawa






Text Box: Jalur distribusi ikan


 




           



 





2.6 Biaya Operasional
            Biaya operasional semuanya di tanggung oleh jurangang/pemilik kapal yang biasanya sekaligus sebagai punggawa kapal, mulai dari perbaikan atau pembenahan kapal, keperluan awak sampai dengan bahan bakar kapal. Untuk lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini :
Uraian
Harga/satuan
Jumlah barang
jumlah
BBM
5000
100
500.000
Rokok
12.000
15
180.000
Roti
1000
40
40.000
mie
1500
40
60.000
Kopi
1000
20
20.000
Minuman
1000
2 dus
40.000
Beras
5000
10 liter
50.000
Air bersih
2000
2 cergen
4000
Es balok
12.000
15
180.000
Jumlah
1.174.000
Tabel 1. Biaya operasional

2.7 Pola Bagi Hasil Nelayan Pabalolang P. Pa’je’nekang
            Apabila harga ikan sedang bagus maka nelayan bisa mencapai keuntungan sampai Rp. 20.000.000 dengan modal pembeli ikan Rp,10.000.000 di tambah dengan biaya operasional Rp. 1.174.000. untuk lebih jelas perhatikan uraian berikut :
Harga beli/keranjang = Rp. 100.000
Harga jual/keranjang = Rp. 300.000
jumlah ikan (keranjang) = 100 keranjang
total penjualan = Rp.30.000.000
jumlah modal = Rp.11.174.000
keuntungan = 30.000.000 – 11.174.000 =18.826.000
            jadi sistem bagi hasilnya adalah sebagai berikut :
juragan/pemilik kapal              : 50 %
punggawa dan sawi                : 50 %
kalkulasi keuntungan :
modal              = 11.174.000
penjualan         = 30.000.000
keuntungan     = 18.826.000
pembagian :
juragan/pemilik kapal :
                                    : 9.413.000
Punggawa dan sawi    :
                                    : 9.413.000
Untuk jumlah pembagian untuk punggawa dan sawi kemudian di bagi jumlah awak kapal yaitu 3 orang.












BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dampaknya buruk dari hubungan nelayan dan juragan ini adalah pada saat musim ikan ternyata nelayan tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Akibatnya, utang tidak mampu dilunasi dan menumpuk karena musim paceklik berikutnya nelayan kembali mengutang pada juragan.
Peranan sawi :
sawi terdiri atas banyak orang (2 – 15), yang juga sudah terspesialisasi seperti sawi juragan, sawi pakkaca, sawi pa’bas serta sawi biasa tergantung dari jenis alat tangkap yang mereka ikuti.
Punggawa mempunyai peranan :
1.    memimpin dan mengorganisasikan kelompok untuk menangkap ikan
2.    menyediakan modal
3.    menyediakan alat tangkap (fishing gear), termasuk
4.    menyediakan kapal tangkap atau perahu.
Pembagian hasil antara juragan, punggawa dan sawi bisa di katakan 1 : 2 untuk juragan yang mendapatkan pendapatan dua kali lipat jika di bandingkan punggawa dan sawi.
3.2 Saran
Sebaiknya dalam pengumpulan data di rangkaikan dengan praktek agar data yang di dapat lebih akurat.


DAFTAR PUSTAKA

idham. 2010. Struktur ekonomi masyarakat nelayan. http:// sistem-pembagian-hasil-punggawa-sawi.html
arif. 2002. Mekanisme melaut. http:// Nelayan Tradisional Terhimpit Moderenisasi _ Indonesia Maritime Institute.htm
kerjasama DKP provinsi sul-sel dengan CV.oval plan 86. Profil desa pulau pajenekang. 2011.










SOSIOLOGI MASYARAKAT PESISIR (SMP)
POLA BAGI HASIL NELAYAN (Pulau Pajenekang)






Oleh :
105940045710 : Supriadi
105940045110 : Saiful
105940045010 : Samsul Bahri
105940044910 : Muhammad Irfan
105940045610 : Sila Hanapin HK
105940044810 : Zulaeha
105940045210 : Darwina

FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar