Rabu, 16 Januari 2013

pakan alami


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Plankton adalah pakan alami dan utama bagi larva ikan, crustacea seperti udang serta merupakan salah satu faktor pembatas bagi organisme budidaya. Plankton di kelompokkan atas phytoplankton dan zooplankton. Phitoplankton dibedakan atas phitoplankton coklat (brown algae ) dan phytoplankton hijau (green algae). Phitoplankton dibedakan atas phitoplankton coklat (brown algae ) dan phytoplankton hijau (green algae).Pakan ini hidup bebas diberbagai perairan, baik perairan  tawar, payau maupun laut dan mampu berkembang dengan secara cepat. Pemberian plankton dalam jumlah besar pada larva tidak memungkinkan dilakukan dengan penangkapan atau penyaringan air laut bebas mengingat ketersediaannya di alam sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga tidak efisien. Oleh karena itu perlu dilakukan budidaya atau kultur plankton untuk mendapatkan plankton dalam jumlah besar.
Permasalahan ketersediaan pakan alami biasanya terjadi pada kegiatan budidaya. Jumlah pakan alami sangat tergantung pada faktor manusia yang memelihara, baik dari jumlah, jenis, maupun waktu pemberiannya. Menurut Coutteau (1996), phytoplankton merupakan dasar dalam mata rantai ekosistem perairan yang dapat dimanfaatkan langsung sebagai pakan hidup untuk pakan organisme budidaya. Sampai saat ini terdapat lebih dari 40 spesies phytoplankton yang telah berhasil di budidayakan guna memenuhi kebutuhan pakan alami untuk kegiatan budidaya ikan dan crustacea.
  Dalam mempertahankan dan menjaga ketersediaan pakan alami untuk pemberian pada ikan dan udang  perlu dilakukan kultur pakan alami yang berkualitas dan kuantitas tinggi secara kontinyu.Jenis pakan alamipun berbagai macam namun secara umum di kelompokkan menjadi dua jenis yaitu hewan dan tumbuhan dan dari segi warnapun dikelompokkan menjadi dua warna yaitu hijau dan coklat.
1.2. Tujuan dan kegunaan
Adapun tujuan dari kegiatan praktek budidaya pakan alami adalah untuk mengetahui cara membudidayakan pakan alami baik skala laboratorium maupun skala massal.
Kegunaan dari kegiatan praktek ini adalah sebagai bahan informasi dan memberikan pengetahuan kepada mahasiswa macam-macam pakan alami dan bagaimana cara membudidayakannya baik skala laboratorium maupun skala missal.


 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Plankton Coklat
Plankton coklat adalah kelompok alga yang unik dengan dinding sel yang terbentuk dari silikon dioksida. Dinding selnya dipenuhi banyak lubang sehingga tampak seperti ayakan (saringan) dan secara komersial dapat digunakan sebagai perlengkapan dalam beberapa peralatan filter. Dua kelompok utama didasarkan atas dinding sel yang simetris, baik bilateral maupun radial. Memiliki ciri-ciri tanaman tingkat tinggi dan termasuk dalam organisme eukaryotik. Tidak memiliki flagella kecuali pada beberapa spesies tertentu. Semua jenis memiliki kloroplas dan DNA mereka berada di dalam nukleus. Mereka hanya memiliki chlorophyl a dan c serta beberapa carotenoid seperti fucoxanthin sehingga membuat mereka berwarna kecoklatan. Organisme ini biasa digunakan sebagai pakan dalam budidaya (Fast, A.W dan Laster L.J., 1992).
A.   Chaetoceros sp
Klasifikasi dan Morfologi Chaetoceros, sp menurut  (Isnansetya dan Kurniastuty, 1995) adalah :
Chaetoceros sp merupakan salah satu diatom :
Phyllum                :   Chrysophyta
Class                     :   Bacillariopohyceae
Sub Calss                        :   Centricoe
Ordo                      :   Centroles
Famili                    :   Chaetoceros
Spesies                 :   Chaetoceros sp
Organisme ini merupakan sel tunggal dan dapat membentuk rantai menggunakan duri yang saling berhubungan dari sel yang berdekatan. Tubuh utama berbentuk seperti petri dish. Jika dilihat dari samping organisme ini berbentuk persegi dengan panjang 12-14 m dan lebar 15-17 m, dengan duri yang menonjol dari bagian pojok. Selnya dapat membentuk rantai sebanyak 10-20 sel dan mencapai panjang 200 m. Populer sebagai pakan rotifer, kerang-kerangan, tiram, dan larva udang ( Isnansetya dan Kurniastuty, 1995).
A.   Pelaksanaan Kultur Chaetocero sp
a.    Kultur Murni (carboy/toples)
Adapun cara kultur murni (carboy) dilakukan dengan cara (Cahyaningsih, 2005) :
·         Media bersalinitas 31-32 ppt
·         Pupuk mix grade PA
·         Sterilisasi chlorinasi 10 ppm, dan thiosulfat ≤ 5 ppm
·         Pertahankan pada suhu 25 0C, pada lampu TL 40 watt 2 buah
·         Pemberian stater 1:7
·         Suplay co2 aerasi
·         Inkubasi 5-7 hari
b.    Kultur Semi Massal (Intermediet)
Di Fry Production Unit sendiri dilakukan pengelolaan dan penyediaan  Chetoceros sp mulai skala intermediate ( volume kultur 6 Ton) sampai skala.
Kultur skala semi massal dimulai dari volume 100/150 liter hingga 500 liter dan 1000 liter yang diletakkan di luar laboratorium (outdoor) (Ditjenkan 2005).· Persiapan media: wadah yang digunakan untuk kultur dibersihkan dengan sabun setelah itu, dibilas dengan air tawar. Air laut bersalinitas 30-32 ppt disaring dengan filter bag dab dikaporit 5-10 ppm, diaerasi kuat dibiarkan kurang lebih 12-24 jam, tes chlor jika masih ada dan dinetralisir dengan natrium thiosulfat sebanyak ≤ 5 ppm.
·         penyiapan bak kultur sesuai dengan  kebutuhan/rencana kulturnya· Pemupukan dengan pupuk semi massal
·         Pembibitan: bibit yang digunakan berasal dari kultur skala laboratorium dengan kepadatan awal kultur kurang lebih 2 juta sel/ml.
·         Pemanenan: setelah 5-6 hari dilakukan pemanenan dengan kepadatan mencapai 12-16 juta sel/ml untuk selanjutnya ditransfer ke kultur skala massal.


c.    Kultur Massal
Massal  ( Volume Kultur 30-50 Ton ) Dengan Detail Kegiatan Sebagai Berikut :
1.    Persiapan Alat Dan Bahan
a)    Siapkan peralatan yang akan digunakan untuk kultur phytoplankton yakni
NO
JENIS ALAT
SPESIFIKASI
1
Fiber tank tansparan
1000 liter
2
Filter bag      
Rich Filter Green 6 inch/80 cm. Ukuran 88 cm x 30 cm
3
Timbangan duduk   
Kapasitas 2 Kg.
4
Pitcher  plastik.                    
1000 ml
5
Ember plastik           
5 gallon
6
Beaker glass 
500 ml
7
Selang benang
1” , 15 meter
8
Erlenmeyer Glass
1000 ml (u/  tempat Vitamin)
9
Gayung hatchery
Æ 8.5 inchi
10
Pupuk
Lihat tabel komposisi pupuk
11
Pompa submersible 1,5 HP
-
12
Pompa sentrifugal  2 HP
-
13
Pompa DUB  0,5HP
-
b)    Cuci bersih semua peralatan yang akan digunakan untuk kultur phytoplankton, dengan menggunakan larutan detergent dan bilas dengan air tawar.
c)    Keringkan  peralatan yang sudah dicuci sebelum digunakan.
2.    Persiapan Air Media  (Media Kultur)
a)    Siapkan air dengan salinitas 25-27 ppt yang sudah diozon dan disaring dengan menggunakan filter  bag.
b)    Masukkan EDTA2Na 3-5 ppm kedalam media dan beri aerasi dengan kekuatan sedang selama ± 12 jam.
c)    Sterilisasi air laut dengan diberi kaporit 5 ppm dilakukan pengadukan /pengudaraan selama 24 jam, clorin test digunakan untuk mengetahui kenetralan air
d)     Masukkan pupuk sesuai dosis  yang tertera pada tabel  :
KOMPOSISIS PUPUK INTERMEDIATE & MASSAL
PADA KULTUR CHETOCEROS
Jenis Pupuk
30 Liter
1000 Liter
6000 Liter
Masal





Skelon
25
20
20
5
Urea
-
-
-
25
TSP
-
-
-
5
NPK
-
-
-
10
Silikat
4
4
4
4
Vitamin B12*
4
4
4
2
Vitamib H*
4
4
4
2





3.    Untuk bibit yang diperlukan 20% dari volume total, salinitas 28-30 ppt, suhu air 30 0c, ph 8, cahaya yang dibutuhkan 10.000 lux (outdoor).
4.    Persiapan Pupuk
a)   Pupuk yang digunakan yaitu 40-50 ppm KNO3, 20-25 ppm Na2HPO4, 10-15 ppm NA2SiO3, 1-5 ppm FeCl3 dan 1-5 ppm EDTA (tergantung kandungan zat organik terlarut di perairan tersebut
b)   Skelon dan pupuk pertanian direndam dalam air tawar  selama 12-15 jam, kemudian disaring  dan  haluskan dengan saringan mesh-300. ( Dikocok /seperti saat kocok pakan).
c)   Masing-masing jenis pupuk jangan di campur saat perendaman.
d)   Setelah penyaringan, Skelon harus tetap dipisahkan dari campuran pupuk pertanian.
e)   Vitamin B12  dan Vitamin H (Biotin)  dipersiapkan  dengan  cara melarutkan 100 mg  dalam 1000 ml aquadest dan penggunaannya masing-masing 2-4 ppm dari larutan tersebut.
f)    Sodium Silikat dilarutkan terlebih dahulu dengan air tawar,  dengan perbandingan 1 : 30 ( 1 ml silikat  :  30 ml air tawar)
5.  Teknik Pemupukan
Lakukan  penebaran/pemberian  pupuk  secara  berurutan,  yaitu  :  Skelon, Pupuk pertanian, Vitamin dan terakhir Sodium Silikat dengan durasi waktu masing –masing ± 5 menit.  Lakukan sesuai urutan tersebut untuk menghindari  terjadinya penggumpalan atau pengendapan pupuk yang ditebar. Pemanenan: dengan cara langsung bersamaan air media kulturnya dengan menggunakan pompa celup dan didistribusikan ke bak larva udang (Ditjenkan 2005).

B.   Skeletonema
Skeletonema merupakan alga coklat yang di klasifikasikan :
Phylum                      : Chrycophyta
Clas                : Bacillariophyceae
Sub, Class    : Centricae
Ordo               : Centrales
Family                        : Skeletonemaeae
Genus             : Skeletonema
Spesies           : Skeletonema sp.
Skeletonema.sp adalah jenis phytoplankton bersel tunggal, Sel individu berukuran lebar 6-10 m dan panjang 20-25 m dengan cakupan filamen mencapai panjang 500 m berisi sekitar 15-20 sel. Bentuk sel seperti kotak dengan sitoplasma yang memenuhi sel dan tidak memiliki alat gerak. Proses pembelahan sel yang berulang-ulang menyebabkan sel skeletonema mereduksi sehingga mencapai generasi tertentu, unsur hara yang di perlukan untuk perkembang biakan skeletonema adalah N,P,Si,Fe. Dan unsur mikro lainnya (Fast, A.W dan Laster L.J., 1992)
B.   Pelaksanaan Kultur  skeletonema sp
Pada kultur murni skeletonema pemberian aerator pada toples sangat di perlukan karena skeletonema akan memerlukan oksigen terlarut yang cukup untuk hidupnya. Pemberian aerator di sesuaikan dengan besar toples dan kepadatan skeletonema yang di kultur di dalamnya. Hal ini bertujuan agar jangan sampai telur skeletonema hancur yang akan mengakibatkan kegagalan dalam pengulturannya. Sesuai dengan pernyataan Djarijah (1995),  aerasi di perlukan terutama untuk pengadukan media sehingga tidak terjadi stratifikasi suhu pada air media dan sebagai akselerasi pamasukan udara terutama CO2 dan O2. Akselerasi yang baik untuk Skeletonema tidak terlalu besar, karena apabila aerasi terlalu besar maka akan memutuskan filamen sehingga skeletonema akan hancur.
Pada kultur massal skeletonema, air yang di gunakan untuk mengisi bak kultur tersebut mempunyai kadar garam atau salinitas 27 ppt. nilai salinitas ini merupakan nilai yang optimal yang dapat di toleransi oleh skeletonema. Salinitas optimal untuk pertumbuhan fitoplankton jenis Skeletonema adalah berkisar antara 25-29 ppt Chen, (J dan Setty, H.P.C. 1991).
Pupuk Yang digunakan adalah:
Urea                60 ppm atau 60 g / ton
NaH2PO4      8 ppm atau 8 g / ton
Na2SiO3        6 ppm atau 6 g / ton
FeCl3                         1 ppm atau 1 g / ton
EDTA              5 ppm atau 5 g / ton
-       Pupuk Yang telah ditimbang Sesuai Artikel Baru kebutuhan.di masukkan Ke Dalam, bak Yang telah dioersiapkan sebelumbya Dan air laut yanmg sudah steril Artikel Baru kadar garam sekitar 20-30%.
-       - Penghasilan kena pajak pupuk melarut, bibit dimasukkan kedalam bak Skeletonema Kultur.
-       Lakukan Pemeliharaan Artikel Baru culup mendapatkan Intensitas Cahaya

2.2.Plankton Hijau
 
       Plankton hijau adalah kelompok alga yang paling maju dan memiliki banyak sifat-sifat tanaman tingkat tinggi. Kelompok ini adalah oraganisme prokaryotik dan memiliki struktur-struktur sel khusus yang dimiliki sebagaian besar alga. Mereka memiliki kloroplas, DNA–nya berada dalam sebuah nukleus, dan beberapa jenisnya memiliki flagella. Dinding sel alga hijau sebagaian besar berupa sellulosa, meskipun ada beberapa yang tidak mempunyai dinding sel. Mereka mempunyai klorophil a dan beberapa karotenoid, dan biasanya mereka berwarna hijau rumput. Pada saat kondisi budidaya menjadi padat dan cahaya terbatas, sel akan memproduksi lebih banyak klorophil dan menjadi hijau gelap. Kebanyakan alga hijau menyimpan zat tepung sebagai cadangan makanan meskipun ada diantaranya menyimpan minyak atau lemak. Pada umumnya unicel merupakan sumber makanan dalam budidaya dan filamen-filamennya merupakan organisme pengganggu (Anonimuse,  1992).
A.   Chlorella
    Chlorella merupakan alga hijau yang diklasifikasikan sebagai berikut :
            Phylum                                  :   Chlorophyta
            Class                                      :   chlorophyceae
      Ordo                                       :   Chlorococeales
            Famili                                     :   Chlorellaceae
            Genus                                                :   Chlorella
            Chlorella merupakan jenis alga bersel tunggal, bulat telur, berwarna hijau, mempunyai cloreplast seperti cawan, dindingnya keras padat dan garis tengahnya 2 – 8 mikron.  Chlorella masih dapat hidup pada suhu 40 º C tetapi tidak dapat tumbuh.  Suhu optimal pada pertumbuhan chlorella 25º C - 30ºC.  Salinitas yang optimal 24 – 30 ppt.
Chorella sp banyak digunakan sebagai pakan alami bagi rotifer pada usaha perbenihan larva ikan. Chlorella sp yang hidup di laut banyak mengandung asam lemak dari jenis w3 HUFA jenis 20:5w3, sedangkan yang hidup di air tawar mengandung w3 EFA, jenis 18:2w6 dan 18:3w3. Dengan demikian, rotifer yang mengkonsumsi rotifer akan kaya dengan asam lemak tersebut, dan hal ini sangat dibutuhkan oleh larva ikan untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang diberi pakan rotifer yang dikultur dengan Chlorella sp dari jenis plankton laut mempunyai laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang tinggi (Kanazawa, 1988).
Menurut Mullyati, S., dkk, 2008 mengatakan bahwa hasil analisa proximat protein rotifer yang diperkaya dengan ketiga species Chaetoceros, Isochrysis dan Chlorella adalah sebagai berikut :46,65%; 46,90% dan 30,44%.
B.   Dunaliella sp
Dunaliella salina diklasifikasikan sebagai berikut :
Fillum             :  chlorophyta
Klass              :  Chlorophyceae
Ordo               :  Volvocales
Familia           : Polyblephridaceae
Genus                        Dunaliella (Bougis, 1979)
Dunaliella juga sering disebut flagellata uni seluler hujau (Green Unicelulaer plagellata).  Phytoplankton ini mempunyai sepasang flagella yang sama panjangnya, sebuah kloroplast berbentuk cangkir.  Dunaliella salina bersifat halaopilik, mempunyai s ebuah central pyrenoida.  Bentuk selnya tidak stabil dan sangat dipengaruhi oleh kondisi  lingkungan, dapat berbentuk lonjong, bulat, silindris, ellip dan lail-lain.   Kondisi lingkungan, pertumbuhan dan intensitas sinar matahari berpengaruh terhadap ukuran phytoplankton ini (Sylvester. B.D., Nelvy dan Sudjiharno. 2002).
C.   Tetraselmis
Tetraselmis merupakan alga biru – hijau atau dikenal juga sebagai flegellata berklorofil sehingga berwarna hijau, yang diklasifikasikan sebagai berikut :
Phillum          : Chlorophyta
Klass              :  Prasinophyceae
Ordo                :  Pyramimonadales
Genus                        :  Tetraselmis (Bougis, 1979)
Tetraselmis merupakan alga yang bersel tunggal, mempunyai empat buah flagella berwarna hijau (Green Flagella).  Dengan flagella tersebut maka tetraselmis dapat bergerak secara lincah dan cepat seperti hewan bersel tunggal.  Ukuran sel tetraselmis berkisar antara 7 – 12 µm.  Klorofil merupakan pigmen yany dominan sehingga alga ini berwarna hijau, dipenuhi plastida kloroplast  Dinding sel alga ini dibentuk dari selulosa dan pectosa.
2.3.  Teknik Kultur Plankton.
Media tempat tumbuhnya pakan alami sangat berbeda untuk setiap jenis pakan alami. Pada subbab sebelumnya sudah dijelaskan berbagai jenis pakan alami yang dapat dibudidayakan. Setiap jenis pakan alami tersebut mempunyai media tumbuh yang berbeda. Didalam buku ini akan dibicarakan tentang media tumbuh dari phytoplankton.
Jenis phytoplankton yang banyak dibudidayakan pada usaha budidayaperikanan laut adalah Chlorella, Tetraselmis dan Skeletonema costatum. Dari ketiga jenis phytoplankton tersebut secara proses pembuatan medianya hampir sama yang membedakannya adalah jenis pupuk dan volume media yang digunakan. Media tempat tumbuhnya phytoplankton ini dapat dikelompokkan dalam tiga tahap kegiatan yaitu isolasi dan teknik kultur murni di laboratorium, teknik kultur skala semi massal dan teknik kultur skala massal.
A.     Kultur skala laboratorium
Media yang digunakan pada saat inokulasi adalah media agar yang dilengkapi dengan larutan nutrien pengkaya , larutan trace element dan vitamin. Media nutrient tersebut mengandung bahan - bahan kimia yang digunakan untuk sintesis protoplasma pada proses kulturnya. Setelah media kultur skala laboratorium disiapkan langkah selanjutnya adalah melakukan penebaran bibit pakan alami .
Kultur murni dimedia cair ini dapat dilakukan dengan berbagai macam media yang sudah biasa dilakukan. Adapun prosedur yang harus dilakukan adalah :
1)    Siapkan erlemeyer yang telah disterilisasi
2)    Masukkan air laut dan pupuk sesuai dengan media yang diinginkan pada setiap jenis phytoplankton
3)    Lakukan inokulasi bibitphytoplankton dari hasil kultur murni
4)    Amati pertumbuhan phytoplankton tersebut dengan menghitung kepadatan populasi phytoplankton.
B.   kultur semi massal dan massal
Media yang digunakan untuk teknik kultur phytoplankton skala semi massal berbeda dengan teknik kultur murni. Pada teknik kultur ini dilakukan diruang terbuka tetapi beratap transparan agar bisa memanfaatkan sinar matahari. Kegiatan ini umumnya dilakukan
dalam akuarium bervolume 100 liter sampai dengan bak fiber 0,3 m3. Bibit yang digunakan untuk kultur semi massal berasal dari kultur murni. Bibit yang digunakan diambil sebanyak 5 – 10% dari volume total yang akan dikultur
Teknik kultur phytoplankton selanjutnya adalah teknik kultur skala massal, dengan menggunakan bibit dari hasil kultur skala semi massal. Volume media kultur semi massal 100 liter sampai 0,3 meterkubik.
Teknik kultur yang terakhir adalah teknik kultur skala massal dimana pada teknik ini bibit yang digunakan berasal dari teknik skala semi massal. Kegiatan ini dilakukan pada bak-bakkultur berukuran besar dan dilakukan diluar ruangan dengan volume berkisar antara 40 – 100 meterkubik (Martosudarmo dan Wulani. 1990).
Langkah kerja dalam menyiapkan media tempat tumbuhnya pakan alami phytoplankton semi massal dan massal adalah :.
1.    Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dan sebutkanfungsi dan cara kerja peralatan tersebut!
2.    Tentukan wadah yang akan digunakan untuk membudidayakan pakan alami !
3.    Bersihkan wadah dengan menggunakan sikat dan disiram dengan air bersih, kemudian lakukan pensucihamaan wadah dengan menggunakan desinfektan sesuai dengan dosisnya.
4.    Bilaslah wadah yang telah dibersihkan dengan menggunakan air bersih.
5.    Pasanglah peralatan aerasi dengan merangkaikan antara aerator, selang aerasi dan batu aerasi, masukkan kedalam wadah budidaya. Ceklah keberfungsian peralatan tersebut dengan memasukkan kedalam arus listrik.
6.    Masukkan air bersih yang tidak terkontaminasi kedalam wadahbudidaya dengan menggunakan selang plastik dengan kedalaman air yang telah ditentukan.
7.    Tentukan media tumbuh yang akan digunakan dan hitungjumlah pupuk yang dibutuhkan sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan.
8.    Timbanglah pupuk sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
9.    Buatlah larutan terhadap berbagai macam pupuk pada wadah yang sesuai, jika sudah terbentuk larutan masukkan kedalam wadah yang digunakan untuk budidaya pakan alami
10. Media tempat tumbuhnya pakan alami siap untuk ditebari dengan bibit sesuai dengan kebutuhan produksi
 


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Dan Tempat
Adapun waktu dan tempat yang telah disediakan  pada Praktek di Balai Benih Air Payau (BBAP) Takalar  yaitu :
Hari dan Tanggal                    : kamis , 29 November 2012
Jam                                         : 09.00 – 14.00 Wita
Tempat                                   : Balai Benih Air Payau (BBAP) Takalar pada Laboratorium Pakan Alami, Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar
3.2. Metode Pengumpulan Data
            Dalam melaksanakan Praktek metode yang di gunakan antara lain :
b.    Observasi
Observasi atau pengamatan langsung berbagai kegiatan yang di lakukan pada pembuatan pakan alami
c.    Wawancara
Melakukan tanya jawab secara langsung dengan staf dan pekerja yang berada dalam lingkungan praktek dan melakukan diskusi dengan pembimbing lapangan mengenai materi praktek
                                                     

                                                      BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.      Hasil
Setelah melakukan praktikum di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) maka didapatkan hasil sebagai berikut :
1.    Plankton yang di kultur di BBAP berdasarkan warna dibagi menjadi dua kelompok, yaitu plankton hijau dan plankton coklat.
2.    Teknik pembudidayaan plankton yaitu :
a.    Persiapan media kultur
b.    Kultur skala laboratorium
c.    Kultur skala intermediet dan missal

4.2. Pembahasan
A.   Plankton Yang di Budidayakan di BBAP Takalar
a.    Plankton coklat
Plankton coklat adalah jenis plankton yang hanya memiliki klorofil terbatas sehingga mereka berwarna coklat dan apabila jenis ini mendominasi di perairan akan menimbulkan warna coklat pada perairan, contohnya chaetoseros dan skeletonema.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Fast, A.W dan Laster L.J., 1992) Mereka hanya memiliki chlorophyl a dan c serta beberapa carotenoid seperti fucoxanthin sehingga membuat mereka berwarna kecoklatan.
b.    Plankton Hijau
Plankton hijau adalah jenis plankton yang secara fisik di katakn sebagai plankton hijau karena bisa memberi efek warna hijau pada perairan, seperti chlorella dan tetraselmis.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Anonimuse,  1992) Mereka mempunyai klorophil a dan beberapa karotenoid, dan biasanya mereka berwarna hijau rumput. Pada saat kondisi budidaya menjadi padat dan cahaya terbatas, sel akan memproduksi lebih banyak klorophil dan menjadi hijau gelap.
B.   Kultur skala laboratorium
Kultur pada wadah erlemeyer 1000 ml, Erlemeyer berisi air sebanyak 700 ml yang sudah diautoclave kemudian diberi pupuk  walne masing – masing sebanyak 1 ml.  Ambil starter ( bibit) yang dari wadah erlemeyer 500 ml sebanyak 150 ml kemudian diinkubasikan pada rak kultur diruang ber AC yang dilengkapi lampu neon selama 4 - 5 hari.  Starter (bibit) siap di kultur pada tingkat selanjutnya.
Media yang digunakan pada saat inokulasi adalah media agar yang dilengkapi dengan larutan nutrien pengkaya , larutan trace element dan vitamin. Media nutrient tersebut mengandung bahan - bahan kimia yang digunakan untuk sintesis protoplasma pada proses kulturnya
Hal ini sesuai dengan pendapat Djarijah (1995),  aerasi di perlukan terutama untuk pengadukan media sehingga tidak terjadi stratifikasi suhu pada air media dan sebagai akselerasi pamasukan udara terutama CO2 dan O2. Akselerasi yang baik untuk Skeletonema tidak terlalu besar, karena apabila aerasi terlalu besar maka akan memutuskan filamen sehingga skeletonema akan hancur.
Kultur murni dimedia cair ini dapat dilakukan dengan berbagai macam media yang sudah biasa dilakukan. Adapun prosedur yang harus dilakukan adalah :
·         Siapkan erlemeyer yang telah disterilisasi
·         Masukkan air laut dan pupuk sesuai dengan media yang diinginkan pada setiap jenis phytoplankton
·         Lakukan inokulasi bibitphytoplankton dari hasil kultur murni
·         Amati pertumbuhan phytoplankton tersebut dengan menghitung kepadatan populasi phytoplankton.
Adapun cara kultur murni (carboy) dilakukan dengan cara (Cahyaningsih, 2005):
 Media bersalinitas 31-32 ppt
 Pupuk mix grade PA
 Sterilisasi chlorinasi 10 ppm, dan thiosulfat ≤ 5 ppm
 Pertahankan pada suhu 25 0C, pada lampu TL 40 watt 2 buah
 Pemberian stater 1:7
 Suplay co2 aerasi
 Inkubasi 5-7 hari
C.     Kultur Semi Massal Dan Massal
Dilakukan pengelolaan dan penyediaan phytoplankton mulai skala intermediate ( volume kultur 6 Ton) sampai skala massal  ( volume kultur 30-50 Ton ) dengan detail kegiatan sebagai berikut :
·         Persiapan Alat Dan Bahan
1.  Siapkan peralatan yang akan digunakan untuk kultur phytoplankton yakni :
NO
JENIS ALAT
SPESIFIKASI
1
Fiber tank tansparan
1000 liter
2
Filter bag      
Rich Filter Green 6 inch/80 cm. Ukuran 88 cm x 30 cm
3
Timbangan duduk   
Kapasitas 2 Kg.
4
Pitcher  plastik.                    
1000 ml
5
Ember plastik           
5 gallon
6
Beaker glass 
500 ml
7
Selang benang
1” , 15 meter
8
Erlenmeyer Glass
1000 ml (u/  tempat Vitamin)
9
Gayung hatchery
Æ 8.5 inchi
10
Pupuk
Lihat tabel komposisi pupuk
11
Pompa submersible 1,5 HP
-
12
Pompa sentrifugal  2 HP
-
13
Pompa DUB  0,5HP
-

2. Cuci bersih semua peralatan yang akan digunakan untuk kultur phytoplankton, dengan menggunakan larutan detergent dan bilas dengan air tawar.
3. Keringkan  peralatan yang sudah dicuci sebelum digunakan.
·         Persiapan Air Media  (Media Kultur)
1. Siapkan air dengan salinitas 25-27 ppt yang sudah diozon dan disaring dengan menggunakan filter  bag.
2. Masukkan EDTA2Na 3-5 ppm kedalam media dan beri aerasi dengan kekuatan sedang selama ± 12 jam.
3. Masukkan pupuk sesuai dosis  yang tertera pada tabel  :


KOMPOSISIS PUPUK INTERMEDIATE & MASSAL
PADA KULTUR CHETOCEROS
Jenis Pupuk
30 Liter
1000 Liter
6000 Liter
Masal





Skelon
25
20
20
5
Urea
-
-
-
25
TSP
-
-
-
5
NPK
-
-
-
10
Silikat
4
4
4
4
Vitamin B12*
4
4
4
2
Vitamib H*
4
4
4
2






·         Persiapan Pupuk
1.    Skelon dan pupuk pertanian direndam dalam air tawar  selama 12-15 jam, kemudian disaring  dan  haluskan dengan saringan mesh-300. ( Dikocok /seperti saat kocok pakan).
2.    Masing-masing jenis pupuk jangan di campur saat perendaman.
3.    Setelah penyaringan, Skelon harus tetap dipisahkan dari campuran pupuk pertanian.
4.    Vitamin B12  dan Vitamin H (Biotin)  dipersiapkan  dengan  cara melarutkan 100 mg  dalam 1000 ml aquadest dan penggunaannya masing-masing 2-4 ppm dari larutan tersebut.
5.    Sodium Silikat dilarutkan terlebih dahulu dengan air tawar,  dengan perbandingan 1 : 30 ( 1 ml silikat  :  30 ml air tawar)
·         Teknik Pemupukan
Lakukan  penebaran/pemberian  pupuk  secara  berurutan,  yaitu  :  Skelon, Pupuk pertanian, Vitamin dan terakhir Sodium Silikat dengan durasi waktu masing –masing ± 5 menit.  Lakukan sesuai urutan tersebut untuk menghindari  terjadinya penggumpalan atau pengendapan pupuk yang ditebar (Anonimus, 2002).











BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktik Kerja Lapangan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.    Kultur phytoplankton merupakan faktor yang sangat penting untuk menjaga ketersediaan pakan alami bagi larva ikan dan udang pada usaha pembenihan.
2.    Untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus diperhatikan semua faktor yang mendukung yaitu fisika, kimia, biologi dan lingkungan.
3.    Untuk menghindari terjadinya kontaminasi, karyawan, tempat dan peralatan yang digunakan untuk kultur harus selalu dalam keadaan steril.
5.2. Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktek berikutnya mahasiswa tidak hanya melakukan pengumpulan data akan tetapi harus terlibat langsung/langsung melakukan kegiatan kultur plankton mulai dari kultur murni sampai kultur massal



DAFTAR PUSTAKA
Anonimus, 2002. Budidaya Vaname. SHS Aquatic Marketing Service. PT Surya Hidup Satwa
Balai Budidaya Laut Lampung. 2005. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Balai Budidaya Laut Lampung. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Deaprtemen Kelautan dan Perikanan. Lampung
Cahyaningsih, 2005. Live Feed Production (Phytoplankton) Culture of Algae Pure and Mass Culture,
Chen, J dan Setty, H.P.C. 1991. Culture of Marine Feed Organisme. UNDP/FAO. National Island Fisheries Institute. Kasertsart University Campus. Bangkhen Thailand. 15pp.
Martosudarmo dan Wulani. 1990. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Pemeliharaan Kultur Murni dan Masal Mikroalga. FAO. 33 Halaman.
Sylvester. B.D., Nelvy dan Sudjiharno. 2002. Persyaratan Budidaya Fitoplankton dalam Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Seri Budidaya Laut no. 9 Balai Budidaya Laut Lampung. Direktorat Jenderal Kelautan dan Perikanan Lampung. Lampung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar